Ilustrasi, sumber foto: AP/Dita Alangkara
Tangkas Dia - Menurut Kemendikbudristek, per tanggal 20 September 2021, kasus COVID-19 pada siswa SD mengalami peningkatan, demikian juga pada tenaga pendidik. Jumlah siswa SD yang sudah menjalankan sekolah tatap muka dan terinfeksi COVID-19 hampir mencapai 7000 orang sedangkan guru yang terinfeksi sekitar 3200 orang dari 581 klaster sekolah.
Satu hal yang diduga dari penyebab peningkatan infeksi ini karena siswa SD yang berusia 6-12 tahun belum menerima vaksin COVID-19. Dalam rangka memperkecil risiko tersebut, anak direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin flu. Sekolah tatap muka sudah dimulai, perlukah anak mendapatkan vaksin flu?
Pemberian Vaksin untuk Pencegahan Penyakit Spesifik
Walaupun santer terdengar kabar demikian, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pemberian vaksin flu tidak dapat secara signifikan mencegah infeksi COVID-19. Pemberian vaksin dilakukan untuk membangun kekebalan spesifik terhadap penularan infeksi virus tertentu. Misalnya vaksin campak untuk penyakit campak demikian juga vaksin-vaksin lainnya.
Meski demikian vaksin flu sudah seharusnya menjadi jadwal rutin yang diberikan kepada anak setidaknya setahun sekali. Untuk perlindungan terhadap COVID-19, yang paling tepat adalah vaksin COVID-19.
Pernyataan berbeda terjadi pada tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Missouri yang menemukan fakta kalau anak-anak yang menerima suntikan flu musiman cenderung tidak mengalami gejala infeksi COVID-19. Temuan ini berasal dari ulasan terhadap lebih dari 900 anak yang didiagnosis dengan COVID-19 pada tahun 2020.
Menurut Anjali Patwardhan, MD, profesor reumatologi anak dan kesehatan anak, hal ini disebabkan pertumbuhan satu virus dapat dihambat oleh infeksi virus sebelumnya.Fenomena ini disebut interferensi virus, dan bisa terjadi bahkan ketika virus pertama yang menyerang adalah virus yang tidak aktif, seperti halnya vaksin flu.
Dari 905 pasien anak yang didiagnosis dengan COVID-19 antara Februari dan Agustus 2020, ditemukan anak-anak positif COVID-19 yang menerima vaksin influenza di musim flu memiliki risiko rendah untuk mengalami gejala, masalah pernapasan, atau penyakit parah. Dia juga menemukan bahwa anak-anak dengan COVID-19 yang menerima vaksin pneumokokus juga memiliki peluang lebih rendah untuk mengalami simtomatik.
Penelitian pada populasi anak penting karena anak-anak berperan penting dalam mempengaruhi penularan virus. Memahami hubungan dan koeksistensi virus lain di samping COVID-19 dan mengetahui status vaksinasi pasien anak dapat membantu dalam menerapkan strategi yang tepat untuk menurunkan risiko infeksi COVID-19.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention, ketika membuat keputusan tentang sekolah tatap muka, sebaiknya ada beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan, yaitu:
Berapa banyak kasus COVID-19 di lingkungan sekolah dan tempat tinggal anak
Jumlah orang yang divaksinasi di lingkungan sekolah
Usia anak di sekolah atau program PAUD.
Ketika akhirnya sekolah tatap muka menjadi pilihan, menggunakan tindakan pencegahan berlapis menjadi sangat penting. Ini termasuk menggunakan masker, menjaga jarak, screening, ventilasi di sekolah, penerapan protokol kesehatan, serta standar prosedur pencegahan COVID-19 lainnya.

0 Comments